Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168
TEKNIK PEMBENIHAN
UDANG WINDU
Penaeus monodon fabriculus
A. PENYEDIAAN DAN PENGELOLAAN INDUK
Kriteria
Seleksi Induk
Induk
yang baik mutunya mempunyai ciri ‐
ciri sehat dan tidak cacat fisik. Kondisi sehat ditunjukkan dari warna tubuh
yang cerah dan segar, tidak ada tanda tanda nekrosis, khususnya pada bagian
ekor serta terdapat kelengkapan organ tubuh. Anggapan bahwa semakin besar
ukuran induk tentunya akan menghasilkan telur yang lebih banyak dibandingkan dengan
induk yang berukuran kecil tidak selamanya benar dan diperkirakan bahwa induk
berukuran besar pada umumnya sudah tua dan kurang produktif. Kenyataan juga
menunjukkan bahwa induk berukuran besar sangat sensitive terhadap perubahan
lingkungan. Sehingga diperlukan adanya ukuran optimum induk yang lebih
menguntungkan bagi pembenihan. Ukuran optimum pemijahan induk udang windu untuk
betina mempunyai panjang 23, 5 ± 1 cm dan berat 175 ± 25 gram, sedangkan untuk jantan
mempunyai panjang 20 ± 1 cm dan berat 120 ± 10 gram
Pengelolaan Air dan Pakan Induk
Saat tiba
dilokasi hatchery, induk diadaptasikan terhadap suhu dan salinitas. Pakan yang
diberikan berupa cacing laut, cumi ‐ cumi dan
tiram dengan dosis 25 ‐ 30% dari
berat badan. Pergantian air pemeliharaan sebanyak 100% pada pagi hari bersamaan
dengan pembersihan sisa – sisa kotoran pakan didasar bak. Percepatan pematangan
gonad dilakukan dengan ablasi mata dengan memotong salah satu tangkai mata
dengan gunting yang telah dipanaskan. Peneluran dilakukan setiap individu induk
yang matang pada bak bak yang terpisah agar pemeliharaan larva dapat dilakukan
pada naupilus yang dihasilkan induk dengan periode peneluran yang sama. Setelah
bertelur, pada pagi hari dilakukan pemanenan telur secara hati ‐ hati dengan saringan berukuran 200
mesh. Setelah dilakukan pematangan kualitas dan perhitungan jumlah telur,
kemudian ditetaskan pada bak bak penetasan
Penetasan Telur
Telur akan
mengalami tingkatan perkembangan embrio melalui pembelahan sel. Paada kondisi lingkungan
yang baik, perkembangan embrio akan berlangsung normal, namun tidak jarang pula
embrio berkembang abnormal oleh karena infeksi bakteri atau jamur. Untuk
mendapatkan daya tetas telur dan mutu larva yang baik, maka penanganan telur
merupakan tahapan awal yang sanngat penting. Telur yang akan ditetaskan harus
bersih dan ditangani secra hati – hati, baik sewaktu dipanendari bak pemijahan
maupun pada saat dipindahkan ke dalam bak penetasan. Daya tetas telur sangat
berkolerasi sekali dengan daya kelanngsungan
hidup larva. Oleh karena itu daya tetas telur yang rendah sebaiknya tidak
dipergunakan untuk produksi benur, karena ada kecenderungan naupil dari hasil
penetasan telur dengan presentase rendah akan menghasilkan benur yang tidak
tahan terhadap perubahan lingkungan. Daya tetas telur yang sesuai untuk
digunakan dalam produksi benurndisarankan minimal diatas 50%
Nauplius
Mutu
naupli dapat diketahui dari warna serta gerakannya. Naupli yang berwarna coklat
Dapat
diklasifikasikan dengan baik, sedangkan gerakan naupli yang sehat sangat aktif
sehingga waktu istirahatnya sangat pendek dan tidak pernah berada didasar bak.
Disamping itu, naupli sangat responsive terhadap cahaya karena mempunyai sifat
photoaxis aktif
B. PEMELIHARAAN LARVA
Kepadatan
Larva
Optimasi kepadatan nauplius dalam bak pemeliharan larva
dianjurkan tidak lebih dari 100 ekor /liter
Pemberian
Pakan
Pemberian
Pakan alami dan buatan selama pemeliharaan dapat dilihat pada table berikut :
Pengelolaan
Kualitas Air
Kualitas air merupakan hal yang sangat
penting dalam kehidupan larva yang menentukan keberhasilan pembenihan itu
sendiri. Pengelolaan Kualitas air perlu mendapatkan kontrol yang ketat karena sifat dari kualitas air
yang berdinamika dan hal ini biasa terjadi pada air dalam bak selama
pemeliharaan
Beberapa
parameter kualitas air sering merupakan faktor pembatas untuk kehidupan larva
seperti ketersediaan oksigen, adanya senyawa yang bersifat racun dan dapat
menimbulkan kematian massal. Pengelolaan kualitas air secara fisik dapat dilakukan dengan penyaringan partikel ‐ partikel yang ada dalam air dengan
menggunakan sand ultraviolet. Pada media pemeliharaan pengelolaan kualitas air dilakukan
penyiponan, pergantian air dan pemberian bakteri probiotik
Penyakit
dan Penanganannya
Pencegahan
penyakit dilakukan dengan pemberian pakan yang tepat dan pengaturan kualitas
air yang baik, menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan kerja merupakan cara
yang lebih penting dibandingkan dengan pengobatan. Larva yang sudah terserang
penyakit akan sulit untuk penyembuhannya, dan jika hal ini terjadi maka perlu
identifikasi jenis penyakit yang menyerang dan melakukan tindakan pengobatan
dengan jenis dosis obat yang tepat.
Penyakit yang susah diobati sebaiknya dilakukan karantina dan
dimusnahkan dengan menggunakan klorin sehingga tidak menyebar pada larva yang
lain
Metode
Panen
Panen dilakukan pada benih yang sudah
mencapai stadia Post Larva 12. Panen dilakukan dengan mengeluarkan air media
secara perlahan – lahan sampai pada volume mencapai 30% dari volume sebelumnya.
Kemudian benih dikeluarkan melalui saluran pipa secara perlahan dan ditampung
dengan saringan panen, selanjutnya benih ditampung dengan wadah dengan volume 500 liter dan
diberikan aerasi. Untuk pengepakkan (packing) dilakukan dengan menakar benur
dan dimasukkan dalam kantong plastik yang sudah berisi 2 liter air laut,
oksigen murni diberikan pada kantong sampai dengan perbandingan volume antara
air dengan oksigen sebesar 1 : 2. Kepadatan benur dalam kantong berkisar antara
2000 ‐ 3000 ekor dan diangkut
pada suhu berkisar antara 20 – 24 ℃
Sumber
: Balai Perikanan Budidaya Air
Payau Takalar
Minyak Cumi
Minyak Cumi Merk CUMI 168
mempunyai manfaat antara lain :
1. Merangsang nafsu makan benur, nener, udang dan ikan
2. Mempercepat pertumbuhan ikan dan udang
3. Mempersingkat lamanya pemeliharaan udang dan ikan
4. Menjaga kestabilan air dan plankton saat pergantian air
5. Menjaga kestabilan air dan plankton saat hujan terus menerus
6. Dapat digunakan sebagai campuran pembuatan pelet untuk makanan ikan, udang dll
1. Merangsang nafsu makan benur, nener, udang dan ikan
2. Mempercepat pertumbuhan ikan dan udang
3. Mempersingkat lamanya pemeliharaan udang dan ikan
4. Menjaga kestabilan air dan plankton saat pergantian air
5. Menjaga kestabilan air dan plankton saat hujan terus menerus
6. Dapat digunakan sebagai campuran pembuatan pelet untuk makanan ikan, udang dll

No comments:
Post a Comment